Peran BEM Universitas Muhammadiyah Palangka Raya dalam Pembentukan Kepemimpinan Mahasiswa
Oleh: Hafi Mahyudi
Alhamdulillah, Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR), sejak berdiri tahun 1987 sampai sekarang berjalan dengan lancar. Catur darma perguruan tinggi dilaksanakan oleh dosen dengan baik yaitupengajaran, penelitian, pengabdian dan keislaman serta kemuhammadiyahan.
Selain catur darma perguruan tinggi, di UMPR juga dilaksanakan pembinaan kemahasiswaan, penyaluran minat dan bakat serta pembentukan karakter termasuk di dalamnya, tentang kepemimpinan. Salah satu kepemimpinan yang sangat penting adalah kepemimpinan mahasiswa melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Dari awal BEM UMPR mengalami pasang surut setiap periodenya. Terlepas dari keadaan tersebut, esensi kepemimpinan terus melekat.
Dalam konteks pendidikan tinggi, keberadaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) memiliki posisi yang sangat strategis sebagai wadah pembelajaran kepemimpinan bagi mahasiswa. Tidak hanya menjadi lembaga eksekutif di lingkungan kampus, BEM juga berfungsi sebagai miniatur pemerintahan mahasiswa yang menumbuhkan jiwa tanggung jawab, kemampuan manajerial, dan kepekaan sosial. Di Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR), peran ini menjadi sangat penting mengingat kampus ini berlandaskan nilai-nilai Islam berkemajuan yang menjunjung tinggi integritas, akhlak, dan kepemimpinan yang beretika.
Dalam sejarahnya, BEM di berbagai perguruan tinggi menjadi wadah strategis bagi kaderisasi pemimpin masa depan bangsa. Di UMPR, keberadaan BEM bukan sekadar organisasi seremonial, melainkan laboratorium sosial tempat mahasiswa belajar mengambil keputusan, menyusun kebijakan, dan mengelola aspirasi sivitas akademika. Kepemimpinan di BEM tidak lahir secara instan; ia ditempa melalui dinamika organisasi, konflik ide, serta kemampuan menyeimbangkan kepentingan antara mahasiswa dan pihak kampus.
Melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan kepemimpinan, seminar nasional, dialog publik, hingga advokasi kebijakan kampus, BEM UMPR membentuk karakter mahasiswa yang tangguh, komunikatif, dan berjiwa melayani. Hal ini sejalan dengan prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan kepribadian mahasiswa.
Sebagai bagian dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah, BEM UMPR memiliki ciri khas tersendiri, yakni menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi moral dalam kepemimpinan. Konsep kepemimpinan Islam tidak semata-mata tentang kekuasaan, tetapi lebih kepada amanah (kepercayaan) dan tanggung jawab terhadap sesama manusia. Dalam konteks ini, kepemimpinan yang dibangun oleh BEM UMPR diarahkan agar mahasiswa menjadi pemimpin yang berakhlak, berilmu, dan beramal.
Kegiatan kaderisasi kepemimpinan di BEM UMPR biasanya mengintegrasikan nilai spiritual dengan praktik manajerial modern. Contohnya melalui program Leadership Camp berbasis nilai-nilai Islam, pembinaan karakter melalui kajian keislaman, hingga pelibatan aktif dalam kegiatan sosial seperti bakti masyarakat, kampanye lingkungan, dan program literasi desa. Dari kegiatan semacam ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori kepemimpinan, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai empati, tanggung jawab sosial, dan keadilan.
BEM juga menjadi ruang pendidikan politik yang sehat bagi mahasiswa. Melalui dinamika pemilihan umum mahasiswa (pemira), mahasiswa belajar tentang proses demokrasi, strategi kampanye yang santun, serta pentingnya etika dalam berkompetisi. Di UMPR, praktik demokrasi kampus ini diarahkan bukan untuk menumbuhkan rivalitas sempit, melainkan untuk membangun budaya dialog, musyawarah, dan tanggung jawab.
Di tengah arus pragmatisme politik yang melanda dunia mahasiswa di banyak kampus, BEM UMPR mencoba menawarkan model kepemimpinan yang berintegritas dan berbasis moralitas. Misalnya, dalam proses pemilihan ketua BEM, pendekatan yang diambil sering menekankan rekam jejak, visi misi, dan kesesuaian dengan nilai-nilai Muhammadiyah. Hal ini menjadi pendidikan politik yang sangat berharga bagi mahasiswa sebelum mereka terjun ke masyarakat luas.
Kepemimpinan sejati tidak hanya ditunjukkan di ruang sidang organisasi, tetapi juga di lapangan ketika mahasiswa berhadapan dengan realitas sosial. BEM UMPR selama ini aktif menginisiasi berbagai program sosial yang menumbuhkan kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat sekitar, seperti kegiatan UMPR Peduli Banjir, Gerakan Mahasiswa Mengajar di Desa, dan Kampanye Hijau untuk Lingkungan Sehat.
Kegiatan semacam ini menanamkan nilai kepemimpinan transformatif—yakni kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan positif di masyarakat. Mahasiswa belajar menjadi pemimpin yang tidak hanya mampu memerintah, tetapi juga hadir, mendengar, dan bekerja bersama masyarakat. Kepemimpinan semacam ini menjadi relevan di tengah krisis moral dan sosial yang dihadapi bangsa saat ini.
Peran BEM UMPR juga terlihat dalam kemampuannya menjembatani komunikasi antara mahasiswa dengan pihak rektorat. Dalam banyak kasus, BEM berfungsi sebagai mediator aspirasi yang mendorong terciptanya kebijakan kampus yang lebih partisipatif dan transparan. Melalui forum musyawarah bersama, audiensi, dan rapat koordinasi, BEM turut memastikan kebijakan kampus berpihak pada pengembangan potensi mahasiswa.
Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak selalu identik dengan oposisi, tetapi juga kemampuan untuk membangun sinergi dan menyatukan visi antara mahasiswa dan lembaga universitas. Di sinilah BEM UMPR menunjukkan karakter kepemimpinan inklusif—mampu mengakomodasi perbedaan pandangan tanpa kehilangan arah perjuangan.
Namun, membentuk kepemimpinan mahasiswa di era digital tentu tidak lepas dari tantangan. Salah satu yang menonjol adalah menurunnya minat mahasiswa untuk terlibat aktif dalam organisasi akibat dominasi media sosial dan budaya instan. Tantangan lainnya adalah menjaga idealisme di tengah kepentingan pragmatis dan tekanan lingkungan yang seringkali menggerus semangat pengabdian.
Sebagai oragnisasi intra kampus harus berani mengatasi sejumlah persoalan, BEM UMPR perlu terus berinovasi dalam sistem kaderisasi dan pola komunikasi. Pemanfaatan teknologi digital untuk memperkuat literasi kepemimpinan, memperluas jejaring kolaborasi lintas kampus, serta meningkatkan program yang menyentuh kebutuhan nyata mahasiswa merupakan langkah strategis yang dapat diambil. Kepemimpinan modern menuntut mahasiswa tidak hanya aktif di ruang fisik, tetapi juga berpengaruh di ruang digital dengan menyebarkan gagasan positif dan mencerahkan. Untuk menjadi solusi setiap ada persoalan tidak hanya di kampus tetapi juga di tengah masyarakat. (Penulis Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Muhammadiyah Palangka Raya)




