Belajar Dari Sosok Tan Malaka, Sang Revolusioner Yang Mencintai Buku Dan Menulis

Arizal,

(Pemerhati Literasi Kalteng/Wakil Ketua Ikatan Pustakawan Indoensia Kalteng)

 

Q.S Al alaq 1 sampai 5 merupakan surat pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW ketika bertahanuth di gua Hira. Ayat ini menuntun ummat untuk senantiasa membaca dan menulis. Dengan membaca dan menulis Allah mengajarkan tentang ilmu yang belum diketahui manusia. Peradaban Islam pun kian pesat karena ummat terdahulu menghimpun ilmu dengan membaca dan menulis.

Kegiatan membaca adalah salah satu cara untuk menyerap ilmu pengetahuan, dan menulis adalah menuangkan suatu gagasan. Dalam membaca kita dituntut kritis tentang bacaan yang kita hadapi, dengan membaca kita dapat memperoleh informasi yang lengkap, bagaimana informasi itu dikembangkan dan selanjutnya mengaplikasikan dalam kehidupan agar dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk dapat meningkatkan kualitas diri.

Berkaca dari sosok Revolusioner Tan Malaka, dengan nama asli Sutan Ibrahim Datuk Tan malaka Lelaki kelahiran Sumeatera Barat, 2 Juni 1897. Bapak Revolusi yang disebut sebut sebagai orang pertama Indonesia  yang menggagas konsep republik lewat bukunya yang berjudul “Naar de Republiek Indonesia” yang ditulis pada tahun 1925. Buku ini kemudian banyak menjadi inspirasi dan pegangan politik para tokoh pergerakan nasional, termasuk President Sukarno.

Tan adalah salah satu tokoh nasional yang radikal dan revolusioner, berjuang melawan penjajah Belanda tanpa senjata, namun dengan berbagai tulisannya. sehingga membuat dirinya diasingkan oleh pemerintahan Hindia Belanda dari Negara ke Negara karena Pemerintahan Hindia Belanda menganggap berbagai tulisan dan pemikirannya akan mengancam keutuhan pemerintah Hindia Belanda. Memory ini Tan tulis dalam buku yang berjudul “dari Penjara Ke Penjara”. Buku Dari Penjara ke Penjara yang ditulis tahun 1948 ini di tahbiskan oleh majalah Tempo sebagai salah satu buku yang paling berpengaruh atau memberikan kontribusi terhadap gagasan kebangsaan.

Dalam pelariannya , berpindah-pindah tempat tinggal ke Belanda, Rusia, Filipina, maupun Tiongkok, Tan tak pernah berhenti membaca buku, menulis dan mengkaji permasalahan sosial, politik, ekonomi yang ada dinegaranya. Tujuannya hanya satu, pengakuan dunia atas kemerdekaan Indonesia karena dengan menulis semangat juang dan gelora pemikiran radikalnya melawan Kolonila Belanda  tersalurkan melalui buku yang dia tulis.  Tan selalu membeli buku buku dimanapun ia dibuang selagi dapat membelinya dan membuat perpustakaan baru disetiap tempat tinggalnya. Bahkan ia lebih memilih mengurangi membeli pakaian dan makanan demi bisa membeli buku buku.

Saat ini kita berada pada Era Revolusi Industri 4.0. dimana miliaran manusia akan terhubung mobile devices, dengan kemampuan dan kekuatan untuk memproses, menyimpan, dan mengakses informasi melalui internet, sangat tidak terbatas. Generasi muda saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya didepan  gadget berjam jam misalnya hanya untuk memantau aktivitas orang lain dan eksis dengan aktivitas kesehariannya sendiri. Namun dengan keniscayaan ini apakah budaya membaca dan menulis akan hilang? Itu dapat ditanyakan dalam diri kita sendiri. Karena majunya sebuah peradaban suatu Negara, ditandai dengan berapa kekayaan karya intelektual yang disimpan dan dihasilkan disuatu Negara tersebut.

 

 

 

Berita Lainnya

Leave a Comment